Limboto (man1kabgorontalo.sch.id)- Usai pembukaan Diklat Pengembangan Kompetensi Guru bertema “Menumbuhkan Cinta dan Menginspirasi Pembelajaran Bermakna dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta”, MAN 1 Kabupaten Gorontalo langsung melanjutkan kegiatan dengan penyampaian materi perdana di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gorontalo. Senin (27/07/2026).
Pada sesi pertama, Kepala Balai Diklat Keagamaan Manado, Dr. H. Haeroni, S.Sos., M.Si., menyampaikan materi “Sistem Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Kementerian Agama” kepada 50 peserta, yang terdiri atas 40 guru MAN 1 Kabupaten Gorontalo dan 10 guru dari madrasah anggota Kelompok Kerja Madrasah (KKM) MAN 1 Kabupaten Gorontalo.
Dalam pemaparannya, Dr. Haeroni menjelaskan bahwa pengembangan kompetensi menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan Kementerian Agama. Guru dituntut untuk terus mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional agar mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas.
Ia menegaskan bahwa pengembangan kompetensi tidak hanya dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, tetapi juga melalui komunitas belajar, berbagi praktik baik, pendampingan, coaching, mentoring, serta pemanfaatan teknologi sebagai sarana belajar sepanjang hayat.
“Pengembangan kompetensi harus menjadi budaya bagi setiap guru. Guru yang terus belajar akan lebih siap menghadapi perubahan dan mampu menghadirkan pembelajaran yang berkualitas bagi murid,” jelas Dr. Haeroni.
Para peserta mengikuti penyampaian materi dengan antusias. Sesi diskusi yang berlangsung interaktif menunjukkan semangat para guru untuk memperdalam pemahaman tentang sistem pengembangan kompetensi sebagai bekal dalam meningkatkan profesionalisme di lingkungan madrasah.
Melalui penyampaian materi ini, MAN 1 Kabupaten Gorontalo terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidik melalui program pengembangan kompetensi yang berkelanjutan. Bekal yang diperoleh selama diklat diharapkan dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran sehingga mampu menghadirkan layanan pendidikan yang lebih inovatif, bermakna, dan berorientasi pada kebutuhan murid. (Yuli)
