...
Pendidik MAN 1 Kabgor Atik Mar’atus Sholihah sementara memaparkan laporan hasil Penelitian Tindakan Kelas kepada Kepala Madrasah dan perwakilan utusan pendidik anggota KKM se-Kab. Gorontalo.

KABGOR (man1kabgorontalo.sch.id) – Usai bergelut dengan penelitian yang dilakukan sejak bulan Agustus 2019, salah seorang pendidik pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kabupaten Gorontalo, Atik Mar’atus Sholihah akhirnya paparkan laporan hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada seminar virtual yang dihadiri kepala madrasah dan perwakilan pendidik utusan anggota Kelompok Kerja Madrasah (KKM) di lingkungan Kementerian Agama Kab. Gorontalo, Selasa (07/07/2020).

Dalam paparannya saat itu, Atik menjelaskan bahwa penelitian yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Muhadatsah Melalui Model Pembelajaran Role Playing Pada Materi Ta’aruf Mata Pelajaran Bahasa Arab Kelas X Agama” bertujuan untuk pengembangan diri, perbaikan kualitas pembelajaran di kelas dan bentuk upaya untuk menghilangkan persepsi peserta didik yang masih beranggapan bahwa Bahasa Arab itu sulit.

“Rendahnya kemampuan muhadatsah (berbicara) peserta didik, serta adanya anggapan bahasa arab itu sulit menjadi hal yang melatarbelakangi penelitian ini. Olehnya, menurut saya perlu dilakukan inovasi pembelajaran muhadatsah agar peserta didik dapat dengan mudah menguasai teknik dan tata cara berbicara bahasa arab dengan baik,” jelas Atik.

Atik juga menguraikan alasannya memilih model pembelajaran role playing (bermain peran) sebagai objek penelitian. Menurutnya hal itu dikarenakan variasi dan aktifitas belajar yang tercipta mampu meningkatkan daya kreatifitas, imajinasi, serta kemampuan daya interpersonal (keahlian interaksi) masing-masing peserta didik, yang diimplementasikan dari penghayatan peran melalui berbagai ekspresi baik dari segi pikiran maupun perasaan. Sehingga sangat cocok bila digunakan untuk melatih teknik muhadatsah secara perlahan.

“Penerapan model pembelajaran yang tepat bagi peserta didik, juga dapat mempengaruhi daya serap ilmu yang diberikan. Olehnya, model role playing bagi saya dapat divariasikan untuk menunjang keberhasilan mengajar di kelas dan menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan yang sering ditemui peserta didik. Inipun hanya sebagian solusi pembelajaran, maka dari itu saya berharap agar pendidik lainnya dapat berkolaborasi melakukan hal serupa, atau bahkan melebihi guna meningkatkan hasil belajar anak didik kita menjadi lebih baik,” imbuhnya lagi.

Sementara itu Kepala MAN 1 Kab. Gorontalo Rommy Bau secara khusus memberikan dukungan dan apresiasi yang disampaikannya dalam arahan akhir. Rommy Bau menyampaikan bahwa penelitian sebagai wahana dalam rangka memotivasi, agar mampu berpikir kritis dalam memecahkan permasalahan yang ditemui. Oleh sebab itu, menurutnya di abad 4.0 seorang pendidik harus bisa menempatkan dirinya sebagai pengajar, pelatih, fasilitator, inovatif, dan motivator bagi peserta didik, serta tidak pernah berhenti dalam mengembangkan kemampuan dirinya, terutama mengatasi masalah pendidikan terkini.

“Saya berharap melalui kegiatan ini, akan lahir peneliti-peneliti baru dengan beragam inovasi belajar untuk kemajuan pendidikan di Gorontalo, dan terkhusus di MAN 1 Kabupaten Gorontalo ini,” tandas Rommy. (Vhany/raya/R@ja)

Tinggalkan Balasan